Subscribe:

Rabu, 14 Agustus 2013

Mengenang 17 Agustus 1945




Hari Jumat di bulan Ramadhan 1364 H, pukul 05.00 pagi WIB, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia . 


Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Beberapa orang bergegas mempersiapkan pengeras suara dan tiang bendera. Benderanya sendiri, Sang Saka Merah Putih, yang dijahit dengan tangan oleh Nyonya Fatmawati Soekarno, sudah siap. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak standar, karena kainnya berukuran tidak sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera. 

Sementara itu, rakyat yang telah mengetahui akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari sudah semakin tinggi, sementara Proklamasi belum juga dimulai. Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta.

Lima menit sebelum acara resmi dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno. Tak lama, keduanya menuju tempat upacara. 
Upacara pembacaan teks Proklamasi itu berlangsung sederhana, tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA (Pembela Tanah Air) segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi untuk berdiri. Kemudian ia mempersilakan Soekarno dan Mohammad Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi. 

"Saudara-saudara sekalian! Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani .

Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami. PROKLAMASI; Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno/Hatta. 

Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat Tanah Air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun negara kita! Negara merdeka! Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu". 

Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Bendera dinaikkan perlahan-lahan oleh Latief, yang mengenakan seragam PETA berwarna hijau. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Seusai pengibaran bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.

Setelah upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan selesai, ada sekelompok orang memasuki halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang penuh kecewa, mereka meminta agar Bung Karno membacakan Proklamasi sekali lagi. Mendengar teriakan itu,

Bung Karno menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya, kemudian memberi amanat singkat. 

Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menghubungi Produksi Film Negara (PFN) untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu, dokumentasinya hanya ada tiga;yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran bendera, dan satu lagi adalah foto hadirin yang menyaksikan peristiwa yang sangat bersejarah itu. 

M E R D E K A !!!!

0 komentar:

Link Banner

EMIS ONLINE