Subscribe:

Selasa, 02 April 2013

Mencetak Anak Kreatif lewat Dongeng





Mendidik anak dengan cara mendongeng itu asyik. Jadi…mendongenglah! Tapi sebenarnya keberadaan anak-anak pun sudah mengasyikkan: canda-tawa, kemarahan, dan kejengkelan kanak-kanak yang polos mampu mencairkan suasana hati orang tua yang sudah kelelahan bergelut dengan rutinitas sehari-hari.

Masih ada lagi nilai plus dari mendongeng, yaitu interaksi antara orang tua dan anak yang terjalin lewat dongeng sanggup mengakrabkan relasi di dalam keluarga. Pendidikan yang ditanamkan orang tua pun jadi lebih mudah dicerna oleh anak jika disampaikan lewat dongeng; termasukuntuk pendidikan moral dan etika. Jadi tunggu apa lagi? Mendongenglah!

Apa yang dikatakan oleh mereka yang dikenal sebagai pendongeng, seperti Yudi Racil, Ardy Ferdianto, dan Awam Prakoso, juga penulis buku dongeng Dwianto Setyawan sangatlah masuk akal. Mereka memberi ulasan dan contoh sederhana, tapi riil dalam kehidupan sehari-hari.

Yudi Racil mengemukakan bahwa mendongeng itu menghibur karena menggunakan alat peraga seperti boneka, serta mampu menanamkan karakter pada anak. “Dongeng itu mudah diserap anak. Jadi bisa dipakai untuk mengajari anak misalnya jangan main pukul, jangan buang sampah sembarangan, jangan jajan asal-asalan,” kata dia ketika dihubungi SH, Jumat (15/3).

Mendongeng atau bercerita adalah pendidikan nonformal yang dijelaskan dengan kisah, entah itu kisah binatang atau manusia. Bentuknya macam-macam, bisa fabel, mitos, atau legenda. Mudah, murah, efektif! Tapi apa lacur? Semakin lama malah kian jarang orang yang mendongeng, bahkan di sekolah pun guru jarang memberikan dongeng dalam proses belajar-mengajar.

Adapun Yudi Racil, saking getolnya mendongeng, sampai rela merogoh kocek pribadi untuk pergi ke daerah-daerah hanya untuk mendongeng. Tentu saja dengan membawa serta alat peraga seperti muppet. Terakhir kali ia bersama empat temannya mendongeng di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Rencananya, April nanti Yudi Racil akan ke Lampung Timur. Namun terkadang, ia juga pergi ke suatu daerah atas undangan orang lain.

Lelaki yang suka main sulap ini memang menyukai anak-anak sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Baginya, stres bisa hilang begitu melihat tawa ceria anak-anak. “Dari anak-anak kita juga bisa terhibur. Maka mendongeng itu penting bagi kedua belah pihak, antara yang mendongeng dan yang didongengi,” ujarnya.

Yudi bahkan membuat taman baca, taman bermain, taman belajar yang dinamakan Pelangi Kecil. Tempatnya mengambil sebidang tanah milik ibundanya di Desa Wai Mili, Kelurahan Wai Mili, Kecamatan Gunung Pelindung, Kabupaten Lampung Timur. Luasnya ratusan meter, di mana area itu masih didiami oleh sang ibunda yang kini berusia menjelang 70 tahun.

Dedikasi Awam Prakoso dalam dunia dongeng tak kalah dari Yudi Racil. Kak Awam—panggilan kondangnya—mengolah bakatnya menirukan macam-macam suara binatang hingga makin disukai anak-anak. Passion Awam dalam dunia dongeng diwujudkan dengan mendirikan Kampung Dongeng di Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang, pada 18 Mei 2009.

Bagi Awam, mendongeng adalah kreativitas. Di situ, pesan moral bisa disampaikan dengan menyentuh persoalan anak sehari-hari. Melalui laman wongawam.blogspot.com dicontohkan pengalaman Awam ketika suatu hari bertemu anak yang rewel di dalam pesawat udara. Untuk menarik perhatian si anak, Awam menggunakan boneka dan menirukan suara kucing.

Tentu, dihindari aksi ekstrem untuk menarik perhatian anak itu. Itu karena kalau saat itu anak dihampiri dan diajak berkomunikasi dengan boneka yang mengeluarkan suara-suara aneh, bisa-bisa anak itu malah makin ketakutan dan menangis. Oleh karena itu, Awam menarik perhatian si anak dengan cara menempelkan boneka ke jendela pesawat. Lalu, si boneka berbicara tentang langit dan awan.

Awam memberi arahan, sebelum mendongeng atau bercerita, orang tua perlu melakukan persiapan seperti memilih atau membuat cerita. Pesan yang akan disampaikan jangan mengandung unsur kekerasan, pornografi, dan percintaan.

Sebaliknya, harus ada pesan moral tentang perjuangan untuk mencapai suatu tujuan. Jadi, hindari unsur instan dalam cerita, misalnya hanya dengan menggosok lampu ajaib maka tiba-tiba keluar jin yang bisa mengabulkan permintaan.

Selain itu, alat peraga juga penting sebagai media dongeng, seperti buku gambar warna-warni dengan sedikit tulisan dan boneka. Sarana tempat yang akan dipakai untuk mendongeng juga harus disiapkan. Di samping itu, kondisi anak wajib diperhatikan. Jangan sampai ketika anak sedang asyik bermain lalu dipaksa untuk mendengarkan dongeng.

Undur Diri

Dunia dongeng tak jauh dari cerita anak. Karena itu beberapa penulis dongeng juga membuat karya cerita. Namun sayang, tidak sedikit penulis dongeng dan cerita anak yang akhirnya memilih “pensiun” dini dari dunia tulis-menulis. Salah satunya adalah Dwianto Setyawan.

Pria berusia 62 tahun yang kini menetap di Batu, Malang, Jawa Timur, ini sudah cukup lama menikmati masa tuanya dengan tenang. Dia memilih mundur dari dunia penulisan dongeng pada usia 40-an tahun lantaran kebutuhan hidup semakin tinggi tak sebanding dengan pemasukan yang diperoleh dari menulis.

Memang mesti diakui bahwa serbuan cerita anak dari luar negeri telah membuat cerita anak asli Indonesia seperti ditinggalkan. Kebanyakan anak Indonesia sekarang lebih akrab dengan Ultraman dan Doraemon, ketimbang Jaka Tingkir, Lutung Kasarung, Timun Mas. Jadi bukan mengada-ada kalau kemudian muncul kekhawatiran: jangan-jangan nanti anak-anak tidak mengenali legenda Indonesia.

“Menjadi penulis di Indonesia tidak terlalu bisa diharapkan. Saat dihadapkan pada pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka saya memilih kerja reguler,” ungkap Dwianto Setyawan kepada SH, Jumat (15/3).

Dia menuturkan, cerita anak yang mengangkat tema keindonesiaan makin sedikit, terutama bila dibandingkan dengan masa jayanya di era 1980 hingga awal 1990. Itu karena desakan pasar yang menginginkan kisah anak-anak lebih kreatif dan modern. Selain dalam bentuk buku, cerita anak dari luar negeri juga dibuat dalam bentuk animasi dan games yang sangat menarik.

Memang diakui untuk menghasilkan cerita yang menarik dibutuhkan kreativitas, ketekunan dan fokus yang tinggi, sementara dukungan pemerintah sangat minim. Akibatnya, banyak penulis yang memilih undur diri. Sebelum memutuskan mundur dari dunia penulisan cerita anak, Dwianto telah menghasilkan lebih dari 100 cerita anak yang sangat digandrungi anak-anak.

“Kalau di Korea dan Jepang, pemerintahnya sangat mendukung penulis sehingga para penulis tetap fokus pada profesi ini,” lanjut Dwianto yang adalah penulis cerita serial Detektif Grung Grung ini.

Maka dia berharap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong munculnya penulis-penulis muda yang berbakat membuat cerita anak dan dongeng.

Menurutnya, menjadi penulis cerita anak itu tidak terlalu sulit. Yang penting, perhatikan alur, ide, dan bahasa dalam bercerita. Selain itu masukkan unsur budaya dan kearifan lokal supaya anak Indonesia tidak terkontaminasi budaya asing. “Anak-anak menyukai petualangan dan sesuatu yang menggugah rasa ingin tahunya,” lanjut Dwianto, sambil mengingatkan pentingnya promosi terhadap karya penulis dongeng dan cerita anak.

Pesan Dwianto patut dipertimbangkan. Semoga promosi dongeng digencarkan dengan memanfaatkan momen Hari Dongeng Sedunia pada 20 Maret.(Saiful Rizal) .


Sumber  http://www.shnews.co/detile-16438-mencetak-anak-kreatif-lewat-dongeng-.html





0 komentar:

Link Banner

EMIS ONLINE